Ogoh-Ogoh di Bali

Minggu, 15 Agustus 2010



        Bali merupakan daerah yang kaya akan seni dan budaya. Kesenian dan kebudayaan yang berkembang di daerah Bali banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai luhur agama Hindu. hal ini disebabkan oleh adanya keinginan umat Hindu di Bali untuk memvisualisasikan nilai-nilai ajaran agama Hindu. Dahulu kala masyarakat Bali kerap menciptakan suatu kesenian dan budaya yang diperuntukkan sebagai yadnya atau persembahan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, sehingga sampai saat ini di Bali masih dikenal berbagai jenis tari-tarian serta gamelan yang di anggap sakral karena jenis tarian atau gamelan tersebut hanya dipentaskan sebagai sarana pemujaan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa. Contoh lain dari kesenian yang kini telah menjadi budaya masyarakat Hindu di Bali adalah ogoh-ogoh. Ogoh ogoh biasanya dipertunjukkan dalam rentetan perayaan nyepi yakni pada hari tawur kesanga, tepatnya pada petang harinya yang disebut dengan pengerupukanDalam perayaan Tahun baru Saka atau Nyepi, ogoh-ogoh memiliki peranan sebagai simbol atau pemvisualisasian prosesi penetralisiran kekuatan-kekuatan negatif atau kekuatan Bhuta. Dimana ogoh-ogoh yang dibuat pada perayaan Nyepi ini merupakan perwujudan Bhuta kala yakni unsur alam yang terdiri dari air, api, cahaya, tanah, dan udara yang divisualkan dalam wujud yang menyeramkan, karena jika kekuatan alam itu berlebihan tentunya akan menjadi kekuatan yang merusak dan menyeramka
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1986) Ogoh-Ogoh didefinisikan sebagai ondel-ondel yang beraneka ragam dengan bentuk yang menyeramkan. Jika di lihat dari bentuk visualnya dan bahan-bahan yang digunakan untuk membuatnya, mendefinisikan apa ogoh-ogoh itu memang tidaklah mudah. Hal ini disebabkan oleh perkembangan jaman yang begitu pesat sehingga ogoh-ogoh tidak lagi bisa dijelaskan atau digambarkan secara baku, baik itu dari bahan yang digunakan untuk membuatnya ataupun bentuk dan wujud ogoh-ogoh itu sendiri. Sehingga berbagai definisi muncul untuk menjelaskan apa ogoh-ogoh tersebut. Di lain pihak, Laura Noszlopy (2003) seorang peneliti yang meneliti “Pesta Kesenian Bali; budaya, politik, dan kesenian kontemporer Indosnesia” untuk Yayasan Arts of Afrika mendefinisikan ogoh-ogoh sebagai berikut Ogoh-ogoh adalah patung yang berukuran besar yang tebuat dari bubur kertas dan bahan pelekat yang biasanya dibuat oleh kaum remaja Bali sebagai suatu bagian dari perayaan tahunan “upacara pembersihan” (ngerupukan), yang dilaksanakan sehari sebelum perayaan Nyepi, tahun baru Hindu atau hari meNyepi.
Dalam perayaan Tahun baru Saka atau Nyepi, ogoh-ogoh memiliki peranan sebagai simbol atau pemvisualisasian prosesi penetralisiran kekuatan-kekuatan negatif atau kekuatan Bhuta (kekuatan alam). Dimana ogoh-ogoh yang dibuat pada perayaan Nyepi ini merupakan perwujudan Bhuta kala yakni unsur alam yang terdiri dari air, api, cahaya, tanah, dan udara yang divisualkan dalam wujud yang menyeramkan, karena jika kekuatan alam itu berlebihan tentunya akan menjadi kekuatan yang merusak dan menyeramkan
Untuk mengetahui kapan munculnya ogoh-ogoh tersebut secara pasti sangat sulit untuk dilakukan, karena begitu banyak versi mengenai munculnya ogoh-ogoh tersebut. Diperkirakan ogoh-ogoh tersebut dikenal sejak jaman Dalem Balingkang dimana pada saat itu ogoh-ogoh dipakai pada saat upacara pitra yadnya. Pendapat lain menyebutkan ogoh-ogoh tersebut terinspirasi dari tradisi Ngusaba Ndong-Nding di desa Selat Karangasem. Perkiraan lain juga muncul dan menyebutkan barong landung yang merupakan perwujudan dari Raden Datonta dan Sri Dewi Baduga (pasangan suami istri yang berwajah buruk dan menyeramkan yang pernah berkuasa di Bali) cikal-bakal dari ogoh-ogoh yang kita kenal saat ini. Informasi lain juga menyatakan bahwa ogoh-ogoh itu muncul tahun 70’an. Berdasarkan keterangan munculnya ogoh-ogoh itu di Denpasar awalnya hanya sebagai kegiatan untuk mengisi waktu luang saja, Bapak Nyoman Belot yang berasal dari Denpasar membuat ogoh-ogoh dengan tujuan sebagai permainan anak-anak dan tidak ada sama sekali sangkut pautnya dengan perayaan Hari Raya Nyepi. Namun, karena dinggap sesuai menjadi simbolisasi perayaan tawur, akhirnya ogoh-ogoh tersebut dipakai pada perayaan Nyepi. Ada juga pendapat yang menyatakan ada kemungkinan ogoh-ogoh itu dibuat oleh para pengerajin patung yang telah jenuhan mematung batu padas, batu atau kayu, namun disisi lain mereka ingin menunjukan kemampuan mereka dalam mematung, sehingga timbul suatu ide untuk membuat suatu patung dari bahan yang ringan supaya hasilnya nanti bisa diarak dan dipertunjukan.
Terlepas dari kontroversi perbedaan mengenai sejarah munculnya ogoh-ogoh, event ini telah memberi warna baru untuk perayaan nyepi, membuka ajang kreatifitas dan sebagai alat pemersatu generasi muda. Merupakan kewajiban kita agar perayaan ogoh – ogoh berjalan sesuai dengan maknanya dan tujuan awalnya.

 By : Putu Ediariawan

0 komentar:

Poskan Komentar

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes